Infiltrasi Sistem Operasi Open Source di Berbagai Layanan Cloud Service

Dulu sekali sewaktu masih mahasiswa dan komunitas proprietary masih percaya diri dengan lemahnya penetrasi pasar sistem operasi berbasis Linux dan BSD dibandingkan dengan sistem operasi Windows Server. Kami yang rajin belajar Linux seperti diberi harapan kosong bahwasanya, ngapain sih belajar Linux?, mending belajar Windows Server aja. Menurut beberapa orang dari komunitas tersebut lebih layak belajar Windows Server dan cukuplah fokuskan waktu kita untuk belajar Windows Server dan teknologi pendukung lainnya dibandingkan menguasai Linux, BSD, dan berbagai teknologi open source lainnya. Wajar saja sih beberapa evangelist memang seperti itu.

Namun melangkah tapi perlahan, beberapa layanan IAAS seperti Digital Ocean dan Linode mulai hadir yang justru mengandalkan sistem operasi Linux seperti Ubuntu dan Centos untuk layanan mereka. Penggunannya pun cukup banyak, walaupun masih didominasi luar negeri. Karena pada waktu Digital Ocean sedang merintis di Indonesia masih ramai dengan hosting konvensional dan on-premise deployment yang menggunakan server fisik asli beli. Saat itu sekitar tahun 2010 masih belum ramai khalayak IT yang menggunakan Virtual Private Server karena masih pro dan kontranya dari segi biaya dan “keamanan”. Sebelumnya layanan seperti ini telah hadir dulu yang diprakarsai oleh Amazon Web Service, namun sayang harganya terlalu mahal.

Bisnis model seperti IAAS ini mulai mempengaruhi dunia IT Indonesia. Tak sedikit hosting provider biasa yang sebelumnya cuma memberikan layanan hosting PHP dan shared hosting mulai membuka layanan VPS. Cukup banyak provider lokal yang menyediakan model layanan seperti ini. Dan sistem operasi yang jadi favorit masih Ubuntu dan CentOS.

Beberapa vendor besar seperti Oracle, SUSE, dan RedHat pun tidak turut ketinggalan untuk menyediakan layanan serupa dengan memberikan pelayanan yang lebih premium dan resilient untuk pasar enterprise yang memiliki modal besar untuk membangun bisnis mereka diatas layanan mereka ini.

Dan tak disangka, Microsoft menghadirkan Azure sebuah layanan one stop shoping untuk cloud computing mereka yang pada akhirnya menyediakan virtual private server untuk sistem operasi Ubuntu, CentOS dan FreeBSD.

Lalu sekarang akhirnya saya kembali mengingat statement yang pernah disampaikan saat acara komunitas Microsoft sekitar 7 tahun yang lalu. Masih perlukah hanya belajar Windows Server?. Menurut saya tidak akan pernah sia – sia belajar Linux dan BSD mulai dari sekarang hingga nanti. Ibaratnya kamu belajar lingua franca namun untuk berkelana di dunia cloud computing.

Leave a Reply