Model Bisnis Open Source hingga 2017 Saat Ini

Kenapa harus berbisnis dengan aplikasi open source? Apakah aplikasi open source memiliki nilai jual? tentu saja sedikit fakta ini dapat membuat gambaran bagi kamu yang ingin memulai berbisnis dengan aplikasi open source.

Ada yang memerlukan modal besar, ada juga yang dapat dilakukan dengan modal kecil. Tergantung bagaimana kita ingin memulai bisnis tersebut. Rezeki itu dimana – mana dan tidak dibatasi oleh aplikasi proprietary saja yang mana kita sangat terbatas dengan lisensi.

Berikut adalah beberapa contoh strategi bisnis dengan memanfaatkan aplikasi – aplikasi open source.

Pelatihan

Pelatihan adalah cara termudah untuk menghasilkan profit dari dunia Linux, free/open source software. Katakanlah kamu ingin membuka pelatihan Moodle atau FileZilla. Karena keduanya merupakan salah satu FOSS yang tidak perlu membayar sepeserpun untuk lisensi, kita sebagai third party dapat mengadakan pelatihan dengan range harga tertentu. Tentu saja harga ditentukan oleh profesionalitas kita.

Pelatihan yang lazim disediakan adalah pelatihan Linux server, mail server, server administration, blender, inkscape, gimp, dan libre office. Banyak juga pelatihan – pelatihan yang menyediakan kemampuan programming seperti pelatihan programming dengan PHP, Java, Bash, Python, ataupun C++. Ada juga yang menyediakan pelatihan untuk database seperti MongoDB, MariaDB, PostgreSQL, MySQL, dan open source database lainnya.

Sertifikasi Profesional

Sertifikasi profesional merupakan salah satu model bisnis yang biasa disediakan oleh penyedia software open source. Misalkan saja PHP, ada beberapa sertifikasi yang dirilis oleh Zend yang juga merupakan perusahaan yang didirikan oleh para kreator PHP. Ada juga sertifikasi dba untuk MySQL yang dirilis Oracle. Dan masih banyak lainnya.

Karena ini sertifikasi profesional, tentu hanya perusahaan besar yang mempunyai izin resmi dan kurikulum yang kompak. Harganya pun tidak murah bahkan ada yang sampai puluhan juta untuk ikut satu kali sertifikasi.

Membuat Buku

Membuat buku juga merupakan salah satu bagaimana mendapatkan rezeki dari free/open source software. Baik penerbit dalam maupun luar negeri, sudah lumrah dengan menulis buku soal FOSS ini karena memang banyak sekali peminatnya. Sebut saja Palasari, pasar buku di Kota Bandung yang memiliki banyak koleksi buku untuk FOSS ini dengan harga yang lumayan murah. Kamu tidak perlu khawatir kesulitan membeli buku tentang Unix, Linux dan FOSS di Indonesia. Selama peminatnya banyak, tidak perlu mencari dokumentasi online.

Di luar negeri cukup banyak penerbit yang merilis buku tentang dunia ini. Sebut saja PacktPub, APress, OReilly, Gitbook, dan lainnya. Ada juga penerbit buku gratis seperti Syncfusion dan Tutorialspoint. Beberapa ebook yang gratis ini biasanya disponsori oleh suatu perusahaan dalam pembuatannya.

Menjual Konten Digital Berbayar

Konten digital berbayar, seperti menjual video tutorial dan e-book pun sebenarnya memberikan keuntungan besar. Walaupun pengerjaannya sangat berat dan menyita waktu memang sektor ini cukup menjanjikan.

Untuk penjualan video tutorial kita dapat melihat konten seperti NetTutPlus dan Lynda dimana mereka berlomba – lomba menjual video seri berbayar untuk menguasai suatu teknologi open source. Sampai akhirnya Lynda diakusisi oleh LinkedIn karena memang konten mereka sangat profesional.

Untuk penjualan e-book ada banyak sekali publisher yang siap menampung Anda, ambil contoh saja Gitbook, dimana kamu dapat menjual e-book dengan harga diatas rata – rata harga buku Indonesia, tepatnya diatas 200 ribu walaupun tebal buku hanya 100 – 200 halaman saja.

Menjual Plugin atau Modul Aplikasi Berbayar

Plugin atau juga modul berbayar dari suatu aplikasi open source, merupakan salah satu strategi yang cukup gencar dilakukan. Misal MongoDB community dan MongoDB enterprise. Atau juga Elasticsearch yang menjual modulnya seperti Guards agar Elasticsearch dapat memiliki sistem autentikasi. Bisa juga seperti Cassandra yang memiliki versi enterprise dibanding dengan versi komunitas.

Untuk menjual plugin, bisa kita ambil kasus dari penjualan plugin WordPress dan Moodle. Cukup banyak sekali web developer yang mencoba peruntungan dengan menjual plugin yang mereka kembangkan untuk wordpress dan dijual kepada sesama web developer lain yang menggunakan wordpress.

Strategi tersebut memang sangat efektif untuk menggaet pasarnya sampai akhirnya kita ketergantungan dan membeli modul yang sudah dibuatkan vendor tanpa harus membuatnya sendiri. Selama lisensinya sesuai dengan aplikasi open source yang dikembangkan, cara ini tidaklah masalah.

Membuka Jasa Custom Aplikasi Open Source

Strategi yang masih dianut oleh banyak orang hingga kini adalah custom aplikasi open source. Kita ambil contoh Odoo, WordPress, Moodle, dan Magento. Ketiganya sangat digemari oleh konsumen dan tentu saja konsumen ingin mempunyai ciri khas mereka masing – masing.

Pertama kamu dapat melayani custom aplikasi dari segi tampilan, tema, dan template. Karena bagaimanapun tidak mungkin antara satu konsumen memiliki tampilan yang sama dengan konsumen lain.

Kedua adalah melayani custom dari sisi proses bisnis. Dimana kamu dituntut untuk menyisipkan bisnis proses konsumen kedalam aplikasi open source. Misal kita dituntut untuk menyisipkan bisnis proses warehousing suatu perusahaan yang berbeda dengan warehousing yang dimiliki Odoo, atau dituntut mengubah WordPress yang semula CMS biasa menjadi suatu CMS khusus untuk e-learning bagi sebuah sekolah swasta, atau juga menambahkan direktori Hotel dan Penerbangan di Magento karena dituntut untuk menjadi suatu marketplace yang besar.

Ketiga adalah melayani custom dari segi core yang dimiliki oleh aplikasi open source tersebut. Misal WordPress yang semulah hanya CMS saja diubah sedemikian rupa menjadi CMS untuk Human Resource Management walaupun kurang tepat tentu konsumen adalah lebih raja daripada arsitektur WordPress itu sendiri. Atau rebranding Magento yang semula hanya e-commerce untuk satu perusahaan menjadi platform jual beli online bagi siapapun, dalam hal ini menjadikannya sebagai marketplace.

Dunia custom aplikasi open source tidak akan pernah sepi. Tergantung bagaimana kita mencari peluang tersebut dan memanfaatkannya.

Menyewakan Layanan Cloud Premium

Memang strategi ini hanya dimiliki oleh pemain besar seperti Amazon, Microsoft, Google, dan lainnya. Bagaimana tidak, mereka memanfaatkan sistem operasi open source populer seperti Ubuntu, CentOS, dan lainnya untuk menjadi mesin virtual private server mereka. Bahkan Microsoft saja yang memiliki Azure VM yang bertenagakan Ubuntu dan sistem operasi lainnya, dan tentu saja peminatnya tidak sedikit.

Ambil contoh lagi misal seperti Elasticsearch, MongoDB, dan Cassandra yang memiliki layanan cloud mereka sendiri dalam mengelola produk open source mereka menjadi lebih handal dan siap untuk melayani enterprise.

Bahkan sekelas Amazon pun mengeluarkan layanan cloud yang tidak jauh berbeda dengan vendor aslinya. Misal MySQL memiliki layanan cloud yang dimiliki oleh Oracle, namun Amazon membuat layanan cloud mereka untuk MySQL dengan nama Amazon Relational Database Service. Tentu saja nilai jual yang dimiliki AWS memiliki sisi menarik yang dapat dibeli oleh para konsumennya.

Penutup

Banyak sekali strategi yang sudah dilakukan dalam memanfaatkan berbagai aplikasi open source untuk mengais rezeki. Tapi memang sayangnya artikel ini masih mengambil satu sudut pandang dari sisi software development saja. Tapi sepertinya hal ini sudah cukup menggambarkan sebagian dari bisnis di dunia open source.

Jadi sebenarnya agak kurang tepat bila ada seseorang yang berkata bahwa kita tidak dapat memanfaatkan sama sekali aplikasi open source untuk melakukan bisnis sedikitpun. Bahkan bila lisensinya saja GPL, kamu tetap dapat berbisnis dengannya seperti pelatihan atau menjual e-book. Menarik sekali bukan?

Semoga orang yang telah membaca artikel ini dapat memiliki semangat dan niat untuk mulai berbisnis dengan aplikasi open source dan mengurangi kadar penggunaann software bajakan di semua lini bisnis yang dimiliki.

Leave a Reply