Saat Linux Membuktikan Kehandalannya

Dimasa-masa awal Linux, mereka menertawakannya dan mereka pikir Linux tidak dapat melakukan apapun. Kini Linux ada di mana-mana!

Saat itu penulis sedang menjalani masa studi di jurusan Teknik Komputer di Brazil dan pada saat yang bersamaan bekerja di sebuah perusahaan audit dan konsultasi sebagai seorang sysadmin. Perusahaan ini memutuskan untuk mengimplementasikan beberapa perangkat lunak enterprise resource planning (ERP) dengan sebuah basis data Oracle. Penulis memperoleh pelatihan dengan Digital UNIX OS (DEC Alpha), pelatihan ini membuka pikiran penulis.

UNIX merupakan sistem yang sangat powerful dan memberikan kita kontrol sepenuhnya akan sumberdaya yang ada: sistem penyimpanan, jaringan, aplikasi, dan semuanya.

Penulis memulai dengan menulis banyak sekali script dalam ksh dan bash untuk mengotomasi backup, transfer file, dll. Mengkonfigurasi basis data dan sistem operasi memberika penulis pemahaman yang baik bagaimana memperoleh kinerja yang terbaik dari sebuah server. Pada saat itu, penulis menggunakan komputer dengan sistem operasi Windows 95 dan ingin menggunakan Digital UNIX di komputer yang sama, atau bahkan Solaris atau HP-UX, namun sistem UNIX tersebut dibuat untuk berjalan di atas perangkat keras khusus. Penulis telah membaca semua dokumentasi yang ada, mencari buku-buku yang berhubungan untuk memperoleh infromasi tambahan, serta mencoba ide-ide gila pada lingkungan development kami.

Tak lama kemudian, penulis mendengar tentang sistem operasi Linux dari teman. Penulis mengunduhnya dengan menggunakan koneksi dialup, dan penulis merasa sangat bersemangat. Dapat menjalankan sistem yang UNIX-like di komputer standar yang penulis miliki merupaka ide yang sangat luar biasa!

Tidak seperti UNIX, Linux dapat dipasang di komputer apapun, namun saat itu masih sangat sulit untuk memasangnya. Linux saat itu hanya dibuat untuk sysadmins dan geek. Penulis bahkan mengatur sendiri beberapa driver menggunakan bahasa C agar sistem Linux dapat berjalan. Pengalaman menggunakan UNIX membuat penulis merasa seperti di rumah sendiri saat meng-compile kernel Linux, troubleshooting, dan sebagainya. Menjalankan Linux tanpa mengalami permasalahan terkait perangkat keras sangatlah sulit dan menantang.

Pada saat itu banyak yang menyangsikan kemampuan Linux untuk enterprise. Siapa yang memiliki hak milik? Siapa yang dapat memberikan support? Apakah ada aplikasinya?

Namun dewasa ini kita dapat melihat bahwa Linux dapat membuktikan kemampuannya! Mulai dari komputer developer sampai server enterprise; kita juga dapat menemukannya di ponsel, arloji, bahkan perangkat IoT seperti Raspberry Pi. Microsoft membuat distribusi Linux-nya sendiri, memasangnya di Azure, dan terakhir … Windows 10 mendapatkan fitur Bash.

Yang menarik adalah pasar IT membuat dan dengan cepat menggantikan teknologi baru, namun pengalaman yang kita dapat dari sistem lama seperti Digital UNIX, HP-UX, dan Solaris masih relevan dengan Linux, baik untuk bisnis maupun untuk hobi. Kini kita memiliki kontrol penuh akan sistem yang kita miliki dan menggunakan kemampuan maksimum yang dimilikinya. Lebih dari itu, Linux memiliki komunitas yang sangat aktif!

Penulis sangat menyarankan pembaca yang ingin berkarir dibidang IT untuk belajar Linux. Tak perduli apapun cabang IT yang akan pembaca masuki, jika pembaca dapat mempelajari bagaimana komputer standar di rumah dapat bekerja secara mendalam, kita dapat bekerja di depan server apapun menggunakan bahasa yang relatif sama. Dengan Linux kita dapat mempelajari dasar-dasar komputasi serta membangun skill  untuk bekerja dibidang IT mana pun.

Diterjemahkan dari artikel berjudul The revenge of Linux tulisan Daniel Carvalho dari OpenSource.com dengan lisensi CC BY-SA 4.0.

Leave a Reply