Semua berawal dari Apt-Get

Memang tidak seperti para senior yang menggunakan Linux di lingkungan server dimana mereka terbiasa dengan konsol dan mengakses Linux melalui SSH. Atau juga senior yang terbiasa memasang desktop environment dan terbiasa melakukan kompilasi suatu package secara manual sebelum menggunakannya.

Saya langsung mencoba Linux pada tahun 2010-an dimana Linux pada tahun tersebut memang sudah terlampau canggih hingga memasang package pun ga ada gregetnya karena dibantu suatu alat yang bernama package manager.

Sistem operasi Linux untuk para pengguna yang malas memasangnya dari scratch dikenal dengan nama Linux Mint. Sebuah distribusi Linux yang dikembangkan oleh Fabiane Clementine, seorang berkebangsaan Perancis. Memang asing menggunakan suatu sistem operasi yang berbeda dari kebanyakan. Bahkan waktu itu hanya dengan bermain apt-get saja untuk memasang segala jenis perangkat lunak yang diinginkan.

Bosan dengan Linux Mint, saya pun mencoba untuk memasang Ubuntu di laptop Acer 4738G yang saya miliki. Memang saat itu ada masalah VGA driver yang mengakibatkan laptop saya tidak dapat menampilkan gambar saat terhubung ke proyektor atau biasa disebut dengan infokus. Ibunya Linux Mint ini bisa dibilang lebih gegas penggunaannya, dan selain dimanjakan apt-get ada juga Ubuntu Software Center yang cukup membuat penggunanya semakin manja dan dimudahkan. Sesekali memang sering melakukan kompilasi dari source, tapi memang lebih mudah memasangnya dari Ubuntu Software Center ini.

Bosan dengan segala kemudahan yang didapat, akhirnya saya mencoba memberanikan diri untuk memasang keluarga BSD. Dicoba mulai dari FreeBSD, NetBSD, dan PC-BSD. Semuanya menggunakan pkg install dan ports yang khas dimiliki oleh keluarga BSD. Tidak seperti apt-get yang harus mendapatkan binary-nya dari internet. Keluarga BSD menyimpan sebagian binary untuk package manager-nya di kepingan DVD installer-nya yang bisa dipasang saat proses instalasi. Bahkan PC-BSD pun memiliki sebuah software center yang serupa dengan Ubuntu.

Menghadapi skripsi, saya hapus PC-BSD yang sudah terpasang karena tidak ingin ribet dengan segala permasalahan yang dihadapi dan fokus pada penyelesaian skripsi. AKhirnya dipilih kembali Ubuntu. Hingga akhirnya bekerja saya tetap menggunakan Ubuntu sebagai sistem operasi untuk keseharian saya sebagai web developer yang menggunakan PHP, HTML, Javascript, dan MySQL.

Pindah ke kantor yang memiliki proyek lebih advance, saya dihadiahi sebuah laptop yang telah dipasangkan dengan Linux Mint. Sedikit ironi memang dimana kakak kelas saya ini kok memasangkan Linux Mint. Tapi tak masalah karena memang harus mengejar pekerjaan yang sudah mulai menumpuk. Saat menggunakan Linux Mint ini saya bekerja sebagai web developer yang menggunakan Django, HTML, Javascript, MySQL, Redis, Celery, dan RabbitMQ. Lebih kompleks daripada pekerjaan dikantor sebelumnya.

Pindah lagi ke kantor baru, kebetulan dipinjamkan Macbook dengan OSX-nya. Rasa – rasanya ini sama saja seperti pakai Ubuntu hanya saja beda desktop environment. Memang OSX tidak memiliki package manager resmi tapi kekuatan brew yang dimilikinya hampir sama mudahnya dengan penggunaan apt-get. Rasanya tidak asing saat menggunakan OSX ini. Seperti menggunakan Ubuntu saja.

Semua berawal dari apt-get, entah sistem operasi keluarga Unix ataupun bahasa pemrograman, saat ini cenderung memiliki package manager yang sangat membantu penggunanya. Dari apt-get itu pula semua ilmu dan berbagai hal baru akhirnya dipelajari. Bila tidak ada apt-get mungkin agak sulit untuk eksplorasi di dunia Linux dan Unix. Karena memang saya ini terlalu manja untuk menghadapi kesulitan yang diberikan Linux.

Tapi memang hingga saat ini, hanya satu sistem operasi yang tidak pernah memiliki package manager yang stabil. Kamu pasti tahu jawabannya siapa dia :D. Yah, Windows dialah sistem operasi yang tidak memiliki package manger mumpuni seperti keluarga Unix.

2 Comments

  • Bagus Aji May 19, 2017 Reply

    Hmmm, ini admin siapa ya

    • admin June 18, 2017 Reply

      admin poss upi, kang 😀 karena admin poss upi harus anonimus.

Leave a Reply